Manulak Bala Dalam Rangka Antisipasi Covid 19

Oleh: Ania Lingsih

Mahasiswa Sosiologi Agama

IAIN Bukittinggi, Sumatera Barat 

Pada abad 20 kita digemparkan dengan sebuah wabah virus Corona yang dikenal dengan Covid 19, Virus ini pertama kali mencul di Wuhan Cina pada akhir 2019, Virus ini mulai menyebar keseluruh dunia pada awal tahun 2020 termasuk Indonesia. Di Indonesia Virus menyebar dengan cepat keseluruh penjuru Indonesia membuat masyarakat Indonesia mulai ketakutan dengan Virus ini dan untuk mengobati rasa takut tersebut masyarakat khusunya  masyarkat Sungai Limau, Kecamatan Asam Jujuhan, Kab, Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, melaksanakan sebuah Ritual lama untuk menangkal Virus tersebut  yaitu Ritual  Manulak Bala atau mengusir bahaya termasuk penyakit menular seperti Covid 19 ini. 

Virus corona (jawapos)

Masyarkat Sungai Limau melaksanakan ritual Manulak Bala atau Tolak datangnya musibah ini dikhususkan untuk menolak datangnya Virus Corona ke Sungai Limau. Masyarakat Sungai Limau melaksanakan Ritual Manulak Bala ini kerena masyarakat mempercayai dengan melaksanakan Ritual tersebut terhindar dari berbagai penyakit dan musibah seperti yang terjadi saat sekarang ini khususnya Covid 19 atau yang kita kenal dengan Virus Corona. Ritual Manulak Bala ini adalah sebuah tindakan masyarakat Sungai Limau untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona. Ritual ini juga sebagai antisipasi masyarakat dalam musibah ini sebagai benteng atau perlindung masyarakat pada saat Pandemi Covid 19.

Pelaksanaan Ritual Manulak Bala ini dilakukan malam hari tepatnya setelah Sholat Magrib, Ritual Manulak Bala ini hanya dilaksanakan oleh kaum adam saja, setelah melaksanakan Sholat magrib warga bersama-sama berkumpul di Mesjid untuk mengelilingi kampung dengan melafalkan kalimat zikir secara bersama – sama sepanjang jalan. Ritual ini dilakukan sampai kepengujung kampung tujuannya agar penyakit – penyakit dan malapetaka terusir dari kampung Sungai Limau. Pada saat Ritual Manulak Bala ini berlangsung dilarang bagi masyarkat yang mengikuti Ritual tersebut membawa penerang seperti contohnya senter dan lain-lain, masyarakat hanya memanfaatkan cahaya bulan. Bagi masyarakat  yang tidak mengkuti ritual Manulak Bala diharapkan untuk mengunci pintu rumah tidak boleh ada cahaya sedikitpun pada saat Ritual Manulak Bala ini berlangsug, perempuan dan siapa saja yang ada dirumah tidak di bolehkan keluar rumah selama Ritual Manulak Bala ini berlangsung tujuannya adalah masyarkat menyakini dengan menutup pintu rumah dan mematikan cahaya tersebut agar marabahaya tersebut terhindar dari rumah-rumah warga.

Seperti yang dijelaskan oleh  Email Durkheim dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life yaitu sakral dan profan masyarakat menganggap ritual Manulak Bala ini adalah sesuatu yang sakral dan suci sehingga masyarakat percaya begitu saja bahwa dengan melaksanakan ritual Manulak Bala ini mereka terhindar dari bahaya dan malapetaka yang menimpa mereka seperti musibah Pandemi pada saat sekarang ini. Di balik itu semua, di zaman yang modern pada saat sekarang ini masyarakat Sungai Limau masih percaya dan masih tetap melaksanakan Ritual mereka dalam menolak datangnya musibah yaitu ritual Manulak Bala. Ritual ini sebagai obat untuk menenangkan hati masyarakat Sungai Limau di tengah musibah Pandemi Covid 19 ini.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.