Pandangan Sosiologi Terhadap Pelangar Aturan Dalam Penggunaan Masker Pada Masyarakat Taeh Baruah Kota Payakumbuah

  

(Foto: AntaraNews.com)

Oleh : Meli Putri Mulia

Mahasiswa Sosiologi Agama

 Pada tanggal 7 september 2020 pemuda masyarakat Taeh Baruah memberitahukan kepada masyarakat bahwasannya ditlantas Polda akan razia masker serentak di seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan langsung turun lapangan dari semua lintas sektor dan dari kejaksaan, polisi, dan lain sebagainya. dan kalau ada yang tidak pakai masker  di suruh push up / skop jam dan di penjara selama 2 hari. tindakan tegas dilakukan oleh Polisi dan Satpol PP, untuk mengatasi masalah tersebut pemuda memberitahukan kepada masyarakat apabila melewati Kantor Wali Nagari agar dapat memakai masker.

Dalam menjalankan tugasnya masyarakat masih ada yang tidak memakai masker apabila melewati kantor wali nagari di suruh push up / skop jam. dengan kejadian tersebut pada waktu razia sebanyak 10 warga yang terjaring tidak memakai masker. dalam razia kali ini, polisi mendapati mereka yang bekerja di luar rumah yang tidak memakai masker, sanksi yang diberikan kepada 10 warga yang pelanggar PSBB,yaitu push up bagi perempuan dan skop jam bagi laki-laki, dan ada yang hanya diberi teguran, sanksi kerja sosial yang menyapu di jalanan.  bagi pelanggar laki-laki di suruh skop jam  sebanyak 10 kali, dan perempuan sebanyak 10 kali. razia ini di lakukan di depan kantor wali nagari Taeh Baruah, Kabupaten 50 kota Payakumbuh, pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan Perbup nomor 48 tahun 2020 pasal 4 tentang penerapan disiplin penegakan hukum sebagai upaya pencegahan virus covid 19. Satpol PP dan polisi menjalankan peraturan tersebut, yaitu supaya masyarakat dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari membiasakan memakai masker apabila keluar rumah, dan itu juga berguna bagi masyarakat supaya masyarakat dapat menjaga kesehatan dari penyebaran covid 19.

 Selain, untuk menerapkan penegakan hukum, Bapak Hasrul sebagai  Wali Nagari menyampaikan kepada masyarakat nagari taeh baruah untuk menyediakan peralatan cuci tangan di tempat umum, itu bertujuan agar masyarakat dapat membiasakan diri apabila pergi ke tempat umum agar mencuci tangan, jaga jarak, dan memakai masker. dalam kehidupan saat sekarang ini, masih banyak masyarakat Nagari Taeh Baruah yang tidak memakai masker apabila keluar rumah itu disebabkan karena dalam masyarakat sudah berada di era new normal kembali. agar masyarakat dapat mematuhi dan membiasakan diri untuk memakai masker keluar rumah yaitu pak Hasrul menerapkan bagi masyarakat yang pergi ke kantor wali nagari agar wajib memakai masker, apabila tidak memakai masker warga tidak diperbolehkan masuk ke dalam kantor wali nagari, dan menyuruh warga untuk keluar dari kantor wali nagari. Dengan kejadian itu, saran saya agar masyarakat dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap memakai masker apabila keluar rumah yaitu memberikan kebijakan kepada masyarakat agar masyarakat Nagari Taeh Baruah memakai masker apabila keluar rumah, dan dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

 Menurut pandangan sosiologi, dalam teori Emile Durkheim, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berfikir, dan mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu. Dengan kejadian yang telah di terangkan diatas, ini dapat dikaitkan dengan warga  masyarakat yang dipaksa untuk memakai masker apabila keluar rumah, dan apabila tidak memakai masker akan diberi sanksi yaitu di suruh skop jam / penjara selama 2 hari. Tindakan yang di lakukan oleh petugas yaitu supaya masyarakat dapat mematuhi peraturan Perbup 48 tahun 2020 pasal 4 tentang penerapan disiplin penegakan hukum sebagai upaya pencegahan covid 19. Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat yang telah dikenakan sanksi akan di beri peringatan dan masker agar masyarakat dapat mematuhi peraturan dan menjaga kesehatan dari penyebaran covid 19, peraturan yang dibuat pemerintah itu bertujuan untuk melindungi masyarakat dari covid 19, dan ini merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat yang mana salah satu manfaatnya yaitu dapat melindungi masyarakat luas,dari pencegahan covid 19.

 Sedangkan menurut pandangan agama adalah sumber nilai paling tinggi yang dipandang mampu memberi pengharapan dalam kondisi sulit, termasuk dalam keadaan pandemi covid 19 ini. Agama menjadi penting dalam menghadapi bencana pandemi dan bencana lainnya, sebab pada dasarnya bencana merupakan bahaya yang dihadapi oleh individu atau masyarakat yang melebihi kemampuan invidu atau masyarakat untuk meresponnya (Coppola and Maloney,2009:49). Namun, sebagaimana yang diyakini oleh umat Islam, tuhan tidak akan membebani umatnya di luar kapasitas dirinya (QS. 2:286). Wabah dalam literatur berbagai agama, khususnya Islam, sering kali dikaitkan dengan peringatan atau ujian terhadap manusia agar manusia kembali menyucikan diri dan membersihkan jiwa. Wabah seolah memberikan peringatan bahwa pencapaian manusia yang demikian hebatnya menjadi tidak berarti berhadapan dengan sesuatu yang ukurannya bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang. Dalam pandangan agama, tuhan telah berjanji akan memberikan ujian kepada manusia berupa ketakutan, kelaparan, dan berkurangnya kekayaan bahkan sampai hilangnya jiwa dan kematian.

Kesadaran agama dalam menghadapi wabah covid 19 ini akan membantu manusia untuk tetap optimis seraya bersabar dengan yang dihadapinya dengan tetap melakukan upaya yang terbaik.(tacom/ Meli Putri Melia)


1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.